Senin, 30 November 2009

"Live or die, make your choice"

Saw VI (2009)
Perlu gw ceritain cerita film yang udah masuk seri ke-6 ini? Bagi yang gak tau serial Saw, film ini bercerita tentang serial-killer yang menangkap orang-orang yang dianggapnya tidak menghargai hidup dan menguji mereka dalam sebuah 'tes' gila untuk dapat bertahan hidup. Jigsaw killer, begitulah John Kramer (Tobin Bell), dipanggil oleh polisi dan media massa. Dalam film-film sebelumnya, diceritakan bahwa John terkena sebuah tumor ganas yang lambat laun memangsa dirinya. Sebelum ia meninggal pun, John dengan sangat pintarnya masih dapat menyusun rangkaian lika-liku tes-tes maut serta mempersiapkan 'penerusnya'.
Dalam film ke 6 ini, *sedikit Spoiler sih* penerus Jigsaw, detektif Mark Hoffman (Costas Mandylor) juga terus melanjutkan petuah dari Jigsaw. Kali ini, korbannya adalah seorang pimpinan asuransi kesehatan yang harus melalui tes dimana ia harus memutuskan siapa bawahan-bawahannya yang hidup dan siapa yang tidak.

Dari seri-seri sebelumnya pun sebenarnya kualitas film ini bisa ditebak. Cheesy story, bad acting, bad dialog & lines, complicated and more complex tests. Jujur, gw sangat menikmati Saw pertama dan kedua. Menurut gw, kedua film itu adalah 2 dari thriller psikologi terbaik yang pernah gw tonton. Tetapi sejak seri ketiga dan seterusnya, kualitas film ini cukup menurun drastis. Dari kisahnya yang sangat unik, lama kelamaan bikin muak karena jalinan ceritanya yang tambah rumit. Ujian maut nya pun semakin kesini semakin brutal, tak bermoral dan terlalu ribet. Belom lagi salah satu ciri khas Saw yaitu twist ending di setiap filmnya. Di film ini, twist endingnya yang paling gak kerasa. Apa karena sudah ketebak ya polanya? Tapi gw akuin ceritanya film ini mungkin sedikit lebih berbobot dari seri ke-4 dan ke-5.
Tapi gw gak mau munafik, gw pasti selalu penasaran dengan seri yang satu ini. Jelas, bahwa film ini tidak menawarkan sesuatu yang fresh dan sensasi thrilling seperti film awalnya. Tapi entah kenapa gw selalu penasaran dengan ceritanya dan tentu aja tes-tes yang ada di film ini. Walaupun lama-lama makin aneh dan ga jelas, tapi tetep aja bikin penasaran hahaha sempet terkesan juga sama 'russian roullette' versi Saw di film ini. Walaupun film ini pendapatannya paling rendah dari seluruh film Saw dan tidak menjadi peringkat 1 box-office, tapi kocek yg didapat selalu berkali-kali lipat dari budget yang dipakai. Ini yang katanya membuat Lionsgate udah teken kontrak sampai seri ke-10. Game over? Not yet!

Naskah: 4/10 - Akting: 3/10 - Ending: 4/10 - Overall: 4/10

Lionsgate Production

Cast: Tobin Bell, Costas Mandylor, Mark Rolston, Betsy Russell, Shawnee Smith, Peter Outerbridge
Written by: Marcus Dunstan, Patrick Melton
Directed by: Kevin Greutert

Jumat, 27 November 2009

"Each and every man under my command owes me one hundred Nazi scalps. And I want my scalps!"

Di-set di Perancis pada saat di-invasi Nazi, Colonel Hans Landa (Cristoph Waltz) adalah seorang detektif Nazi yang dijuluki The Jew Hunter berkat kepiawaiannya memburu kaum Yahudi yang lari atau bersembunyi. Di tahun 1941, ia membantai seluruh keluarga Dreyfus di tempat persembunyian mereka. Tetapi, Shosanna Dreyfus (Melanie Laurent), anak tertua keluarga Dreyfus berhasil kabur.
4 tahun setelah pembunuhan keluarganya, Shosanna yang kini telah menyembunyikan identitas aslinya menjadi seorang Perancis pemiliki bioskop kecil, tanpa disangka harus berhadapan lagi dengan para Nazi. Frederick Zoller (Daniel Bruhl), tentara yang menjadi war-hero bagi Nazi meyakinkan produsernya, film Nazi yang dibintanginya, Nation's Pride, akan di premiere di bioskop Shosanna, dengan alasan akan lebih eksklusif serta ada rasa ketertarikan Zoller terhadap Shosanna. Shosanna melihat itu sebagai sebuah kesempatan untuk membalas dendam kepada para petinggi Nazi yang akan menonton di bioskop miliknya.
Di lain pihak, sekumpulan Yahudi asal Amerika yang menamakan diri mereka 'The Basterds' menjadi sebuah buah bibir baru di Perancis. Tim yang dikepalai oleh Lt. Aldo Raine (Brad Pitt) ini menebarkan terror dengan cara 'memangsa' tentara German yang mereka temui di jalan. Selain membunuh, mereka juga memotong scalps (bagian atas kepala) serta menandai lambang swastika di dahi tentara yang mereka lepaskan. The Basterds bekerja sama juga dengan aktris dan juga double agent, Bridget von Hammersmark (Diane Kruger), untuk membantai para Nazi saat mereka menonton Nation's Pride.
Apakah 2 rencana mass-massacre yang berbeda cara dengan satu tujuan ini akan berhasil?

Jujur, gw juga tau kalo gw sangat amat telat nonton film ini. Film yang tayang perdana di Cannes pada musim panas lalu ini tidak terlalu disambut baik disana. Walaupun pada akhirnya Cannes memberi penghargaan Best Actor untuk Christoph Waltz. Ketika public screeningnya berjalan, antusiasme para moviegoer sangat besar yang membuat film ini mencapai tingkat teratas di puncak box-office walaupun hanya 1 minggu. Selain itu, review-review film ini pun sebagian besar bernilai positif (ditambah lagi dengan opini-opini penonton di Indonesia *temen2 gw* juga mengatakan film ini sangat baik). Pada awalnya gw ngerasa film ini memang tidak terlalu bagus, setelah melihat respon di Cannes, tetapi ketika diluncurkan untuk publik, film ini ternyata di sambut hangat.
Ketika akhirnya berhasil nonton film ini, satu respon gw: THIS IS FRIGGIN AWESOME! Gak nyangka gw film ini akan sangat menghibur gw dari awal sampe abis. Walaupun memang di beberapa bagian terasa begitu banyak dialog, tapi sepertinya alur yang disampaikan Tarantino sangat enak untuk diikuti jadi gak bikin bosen. Thrilling, hilarious and entertaining at the same time.
Film ini diawali dengan adegan yang kuat serta sangat menegangkan. Karakterteristik Hans Landa sepertinya sudah terbangun sejak film ini dimulai. Pintar, charming dan sangat keji. Dari situ film ini berjalan dengan rapi dengan pembagian chapter-chapter per bagian khas film2 Tarantino (gak tau juga sih, baru nntn Kill Bill soalnya hahaha). Kembali ke Hans Landa, sepanjang film, menurut gw dia adalah karakter paling unik dan gw tunggu-tunggu kedatangannya. Selain karena memang aksinya sangat menghibur, tetapi juga pemerannya, Christoph Waltz, amat sangat baik memerankannya. Pantas memang ia menerima Best Actor. Bahkan perannya menurut gw lebih sentral daripada Brad Pitt.

Ngomong-ngomong masalah Brad Pitt, sebenernya gw gak terlalu suka aktingnya di film ini entah kenapa. Apa karena aksen dan cara ngomongnya ya? Agak-agak annoying. Salah satu adegan yang cukup membuat gw gak suka dengan perannya disini ketika ia diclose-up dan berkata "I want my scalps", gw pikir dia kayak mau ketawa hahaha. Hal yang sama juga gw rasain sama si sutradara gore yang ikutan main disini, Eli Roth.
Selain 3 pemeran diatas, ada 1 aktris yang ngebuat gw suka dengan film ini: Melanie Laurent. Aktingnya menurut gw bagus banget. Ada di satu adegan ketika ia diinterogasi oleh Hans Landa dan merasa kedoknya terbuka, dia bagus banget mainnya disitu. Sama di bagian ending.
Selain faktor akting yang rata-rata sangat briliantly acted, cerita nya seru untuk diikuti serta dialog-dialognya yang smart menjadi kekuatan film ini juga. Okay lets just forget history right now, karena banyak sekali perbedaan-perbedaan dengan kenyataan yang ada, but so what? Adegan-adegan actionnya mungkin memang sedikit, tapi banyak banget adegan menegangkan yang asik banget buat ditonton. Adegan awal di rumah peternak Perancis, adegan aksi The Basterds, adegan di bar, serta tentu saja adegan ending. Endingnya menjadi salah satu ending terbaik yang pernah gw tonton. A totally artistic vengeance! PS: Satu kalimat terakhirnya yang diucapkan oleh Aldo Raine yang disisipkan Tarantino ngebuat gw tersenyum. Nice words to end film!

Sebagai sebuah film tentang Nazi, film ini menurut gw yang paling 'menyenangkan' untuk ditonton. Thrillnya dapet, humornya asik, akting menawan serta jalinan cerita yang ditulis secara superb. Tapi sebagai film perang yang nyata kayaknya sih enggak ya hahaha Tapi tetep film ini menurut gw sangat amat baik. Dibandinngkan film-film Tarantino sebelumnya yang kebanyakan agak segmented, Basterds terasa begitu lebih bisa diterima oleh penonton awam. One of the year's best and definitely (karena belom nntn Pulp Fiction) Tarantino's finest flick. It's a MUST!

Naskah: 9/10 - Akting: 8/10 - Ending: 8.5/10 - Overall: 9/10

Universal Pictures
Cast: Brad Pitt, Mélanie Laurent, Christoph Waltz, Eli Roth, Michael Fassbender, Archie Hicox, Diane Kruger, Daniel Brühl, Til Schweiger
Written and directed by: Quentin Tarantino

Sabtu, 14 November 2009

"The world as we know it, will come to an end"

2012 (2009)
Di tahun 2009, seorang scientist Amerika, Adrian Helmsley (Chiwetel Ejiofor) mengunjungi kerabatnya di India, Satnam (Jimi Mistry) yang telah menemukan bahwa terjadi badai matahari terbesar sepanjang sejarah. Hal itu juga membuat suhu temperatur pusat bumi naik secara drastis. Adrian yang langsung pulang ke Amerika lalu memberitahukan info tersebut kepada Chief of Staff dan juga kepada Presiden Amerika. Waktu meloncat menuju tahun 2012. Seorang limo driver di California, Jackson Curtis (John Cusack) yang dulunya seorang penulis buku, mengajak anak-anaknya untuk berkemah ke Yellowstone. Jackson telah bercerai dengan istrinya, Kate (Amanda Peet) yang sekarang sudah memiliki kekasih baru, Gordon (Thomas McCarthy).
Ketika di Yellowstone, Jackson tertangkap oleh tentara2 US karena telah melewati zona terlarang yang sangat rahasia. Disana ia bertemu dengan Adrian yang ternyata adalah penggemar bukunya. Masih curiga dengan apa yang disembunyikan oleh pemerintah, Jackson kemudia bertemu dengan penyiar radio eksentrik, Charlie Frost (Woodie Harrelson) yang memberitahukannya mengenai ramalan suku Maya tentang akhir dunia di tahun 2012. Awalnya Jackson tak percaya, tetapi sebuah gempa bumi yang sangat besar di California membuatnya yakin bahwa dunia akan hancur. Dari sinilah dimulai petualangan Jackson bersama seluruh keluarganya berjuang melawan maut yang mengelilingi mereka.

Membicarakan mengenai akhir dunia sebenarnya adalah suatu hal yang sangat sulit karena memang berhubungan dengan keyakinan masing-masing. Yang pasti adalah, dengan adanya ramalan dari suku Maya yang akhir-akhir ini heboh pun, kita, manusia tidak akan pernah tahu kapan dan bagaimana pastinya end of the world itu akan terjadi. Yang hanya kita bisa lakukan adalah untuk terus berdoa and keep on the right track.
Aside from that issue, lets talk about the movie. Film ini bisa dibilang sangat tipikal film-film disaster dan sangat khas Roland Emmerich. Sutradara yang juga pernah membawa kita ke dalam roller-coaster-ride di Independence Day dan The Day After Tomorrow ini lagi-lagi akan mengajak kita untuk menyaksikan super special effect yang bertumpahan dimana-mana. Beberapa scene memang sedikit membosankan dan terlalu dramatis. Tetapi tetap saja suguhan seperti itu sangat menyenangkan bila ditonton di bioskop.
Tapi sekali lagi, tipikal film2 disaster adalah cerita yang sangat biasa. Di film ini, ceritanya sangat-sangat lame. Aneh melihat keluarga Jackson yang sepertinya lagi ketiban untung sepanjang film. Banyak orang-orang yang mati terbunuh sebegitu cepatnya, tapi dewi fortuna sepertinya seneng banget nyantol di keluarga Jackson. Dari kecelakaan yang sangat mustahil pun, mereka masih bisa bertahan. Belum lagi dialog-dialog cheesy serta akting yang sangat jelek. Beberapa adegan yang sengaja dibuat untuk kita menangis pun sangat tidak believable. Tidak ada simpati khusus yang bisa kita berikan kepada karakter-karakter di film ini. Oiya gw juga baru tahu bahwa sutradara The Visitor main juga disini sebagai Gordon.
Ada satu hal, selain special effect, yang menurut gw cukup bagus, yaitu tentang pesan terhadap kemanusiaan. Pesan yang terselip di bagian menuju ending tersebut menurut gw cukup dalem. Pesan itu pun yang membuat gw sedikit lebih suka dengan film ini. Dan satu lagi, *SPOILEER!!* di adegan Satnam menelfon Adrian untuk yang terakhir kalinya adalah satu-satunya adegan dimana gw hampir menitikkan air mata. Hampir.

Film ini sepertinya akan merajai tangga box office di seluruh dunia dan akan menarik penonton yang sangat banyak. Sedikit kaget juga melihat Roger Ebert memberikan nilai 3,5/4 untuk film ini. Gak cuma dengan ide cerita nya yang sampai saat ini pun masih sangat kontroversial, tetapi dengan suguhan special effect yang over the top. Agak kecewa juga sih sebenernya, gw kirain ada beberapa good changes yang akan dibawa oleh Emmerich di film ini aside from the effects. Tapi seperti yang dibilang oleh mas GilaSinema, dengan film seperti ini, buat apa mikirin dialog dan akting. Just enjoy the ride, cause thats what this kind of movie is made for.

Naskah: 4/10 - Akting: 3/10 - Ending: 4/10 - Overall: 5/10

Columbia Pictures
Casts: John Cusack, Amanda Peet, Chiwetel Ejiofor, Thandie Newton, Oliver Platt, Thomas McCarthy, Woody Harrelson, Danny Glover
Written by: Roland Emmerich, Harald Kloser
Directed by: Roland Emmerich

Minggu, 08 November 2009

"No, my friends. This is now the United States of Zombieland"

Zombieland (2009)
Di-set di post apocalyptic Amerika, dimana negara adidaya tersebut sudah 'diambil-alih' oleh para Zombie. Jumlah manusia yang hidup pun bisa dihitung dengan jari. Colombus (Jesse Eisenberg) adalah seorang pria yang sedang dalam perjalanan menuju ke daerah rumah orang tuanya. Karena pertemuannya yang tidak sengaja dengan beberapa zombie, ia pun terpaksa berpergian dengan berjalan kaki. Di perjalanan, ia bertemu dengan seorang pria yang memberikannya tumpangan. Pria tersebut memiliki aturan untuk tidak memberikan nama masing-masing (dari situlah nama Colombus berasal, karena si tokoh utama ini mau pergi ke Colombus, Ohio), hanya dengan nama tujuan atau asal mereka. Maka dari itu Colombus memanggil pria tersebut Tallahasse (Woody Harrelson).
Di suatu supermarket terbengkalai yang mereka singgahi, mereka berdua bertemu dengan kakak beradik Wichita (Emma Stone) dan Little Rock (Abigal Breslin) *yang bisa diketahui bukan nama sebenarnya* yang ingin pergi ke taman ria Pacific Playland di LA yang berdasarkan rumor, tempat tersebut zombie-free. Ternyata, dua kakak beradik ini adalah penipu ulung dan berhasil mencuri kendaraan dan senjata Talahasse. Tetapi kemudian, Colombus dan Tallahasse bertemu lagi dengan Wichita dan Little Rock. Akhirnya mereka berempat memutuskan untuk bersama-sama pergi ke LA.

Film ini menurut gw cukup unik, banyak unsur-unsur menghibur dan gak biasa di dalamnya. Bisa dibilang dari segi cerita, film ini tidak terlalu sempurna, bahkan cenderung sudah basi karena ide 'zombie2an' sudah sering dipakai. Alur nya pun terkesan klise dari awal sampai akhir film. Tetapi, dengan cerdasnya, film ini menyelipkan humor-humor serta dialog-dialog yang berbeda dari film-film sejenis. Berbeda disini maksudnya entah kenapa jokes nya lebih ngena aja. Hal tersebut menambah poin keasyikan menonton karena dapat membuat gw (dan mungkin penonton lain) terhibur sepanjang film.
Hal lain yang juga menjadi hal yang menarik dalam film ini adalah list-list untuk stay alive di Zombieland yang di narasikan oleh tokoh Colombus. Ilustrasi-ilustrasi yang disajikan sangat lah artistik serta memancing tawa. Faktor pengulangan terhadap salah satu dari list pun tidak menjadikan gw bosen, tapi gw ngerasa film ini cukup konsisten terhadap list ini, walaupun sangat disayangkan bahwa gw semua dibacakan.
Lalu selain list tersebut, adegan2 slowmotion agak sering ditampilkan disini, apalagi di beberapa bagian dimana jika salah satu dari mereka menyerang zombie. Yang paling berkesan mungkin adalah bagian opening title film ini. Adegan-adegan slowmotion ketika zombie-zombie menyerang cukup mengesankan. Ditambah lagi dengan penempatan text yang sangat artistik.

Selain poin-poin di atas, thumbs up buat Jesse Eisenberg yang bermain sangat baik disini. Gw suka banget dengan pembawaan Colombus di film ini dan Eisenberg mampu memainkan perannya dengan sangat bagus. Abigail Breslin juga bermain cukup baik disini. Beda banget ngeliat dia di film ini dengan Breslin di film Little Miss Sunshine 3 tahun yang lalu.
Walaupun film ini bisa dikatakan bagus, tapi memang masih banyak kekurangannya. Selain faktor ke-klise-an ceritanya itu, juga masih terdapat holes di beberapa bagian cerita, yang tidak memberikan dampak yang terlalu berarti. Oiya ada satu aktor ternama yang jadi cameo dirinya sendiri lho disini.
Poin terakhir jelas di conclusion ceritanya. Walaupun endingnya tidak memberikan suatu penyelesaian, tetapi terdapat pesan yang cukup bagus buat dimaknai di ending yang dirasakan oleh tokoh Colombus. Dimana di saat sesulit apapun, di zamannya zombie berkuasa, it's good to have some friends around.

Film yang sempat disamakan dengan film Inggris yang memiliki tema sama dengan film ini, Shaun Of The Dead. Dua-duanya menurut gw memiliki faktor fun serta keunikan tersendiri. Bedanya adalah cara film2 tersebut melontarkan lawakannya. Shaun Of The Dead dengan jokes khas British, sedangkan Zombieland lebih khas Amerika. Tergantung selera masing-masing sih. Kalau gw sih suka dua-duanya. Karena pas ditonton, kedua film ini menghibur banget.
Keseluruhannya, Zombieland memang bisa dikatakan sebagai salah satu film terbaik tahun ini. Gak cuman bermodalkan cerita zombie dan tingkat gore slash fun yang tinggi, tapi jokes nya cerdas dan out of the box. Akting yang bagus serta terdapat pesan didalamnya. Sebuah fun movie yang sepertinya mampu menghibur di kala apapun.

Naskah:8/10 - Akting:7.5/10 - Ending: 7/10 - Overall:8/10

Columbia Pictures
Cast: Jesse Eisenberg, Emma Stone, Abigail Breslin , Amber Heard, Mike White
Written by: Rhett Reese, Paul Wernick
Directed by: Ruben Fleischer

Sabtu, 07 November 2009

"I don't want to get over her, I want to get her back"

Tom Hansen (Joseph Gordon-Levitt) adalah seorang pria yang percaya terhadap takdir dan cinta sejati. Walaupun ia ingin menjadi arsitek, tapi nasib membawanya untuk bekerja di perusahaan kartu ucapan. Ketika ia bertemu asisten baru bosnya, Summer Finn (Zooey Deschanel), ia langsung tertarik dengannya. Tetapi sayangnya, Summer tidak seperti Tom, yang percaya dengan true love. Summer memiliki pendirian untuk tidak memiliki kekasih. Ketika mereka mulai dekat, Tom dengan terpaksa menerima bahwa hubungan mereka bukanlah boyfriend-girlfriend-thing.
Tetapi sayangnya, hubungan mereka harus kandas di tengah jalan, walaupun Summer masih ingin berteman dengan Tom. Putus asa, dengan dibantu oleh sahabatnya, McKenzie (Geoffrey Arend) dan Paul (Matthew Gray Gubler) serta adik perempuan Tom *yang terkesan lebih dewasa dari Tom*, Rachel (Chloe Moretz), pikirannya pun membawanya loncat-meloncat dari hari pertama ia bertemu, perkenalan, pertengkaran pertama, hingga hari-hari paska putusnya hubungan mereka.

Terkadang film-film yang gw prediksi akan bagus berakhir dengan kekecewaan. Tidak dengan film ini. Film ini adalah salah satu film paling lovable yang pernah gw tonton. Yes, one of the most romantic ones too. Cerita dalam film ini sangat *atau mendekati* real. Karena film ini tidak menjanjikan sebuah kisah cinta seperti fairyland dan penuh dengan cinta-cintaan, dan juga tidak terlalu mellow dalam keputus-asaan. Inilah bagaimana kebanyakan hubungan antara pria dan wanita terjadi. Dialog-dialog dalam film ini sangat cerdas, dan light jokes nya pun kena banget. Dari awal film dimulai pun, author's note nya udah bikin gw ketawa duluan. What an interesting stuff to start a rom-com movie.
Despite of being one of my favorite, Zooey Deschanel play really great here. And Joseph Gordon Levitt too! Chemistry antara pasangan quirky ini sangat pas banget menurut gw. Seperti yang gw bilang, lovable. Sepertinya jarang melihat chemistry seindah ini. Zooey & Joseph nailed this one! Semua cast bisa dibilang dapat memainkan perannya dengan baik, terutama Rachel, adik Tom yang sangat dewasa. Matthew Gray Gubler, pemeran Paul sayangnya udah gw kenal sebelumnya di salah satu serial TV favorit gw, Criminal Minds. Dan aktingnya pun tidak jauh beda dengan aktingnya di film ini, membuat gw selalu menganggap Paul sangat mirip Dr. Reid (perannya di Criminal Minds).

Selain 2 poin diatas, ada beberapa hal yang juga gw suka dari film ini, seperti adegan dimana Tom datang ke pesta yang diadakan Summer. Terdapat dua frame disitu, antara ekspektasi nya Tom serta kenyataan. Dimana hal tersebut sangat berbeda, karena di adegan itu mereka berdua telah berpisah. Selain itu adegan klise di film-film India, dimana Tom bernyanyi dan menari setelah ia akhirnya tidur dengan Summer, serta seluruh orang di taman ikut pula bernyanyi dan menari dengannya. Meskipun cheesy, tapi entah kenapa hal tersebut membuat gw tersenyum.
Hal yang perlu dibanggakan dari film ini juga adalah soundtracknya yang menawan. Mulai dari pembuka dengan Regina Spektor sampai lagu-lagunya The Smiths (apalagi di adegan lift yang bisa gw bilang akan sangat legendaris beberapa tahun ke depan *lebay*). Semua lagu dalam film ini sangat penuh dengan youthful spirit banget. Pas!
Sebenernya gak kepengen ngebocorin sih, tapi ending di film ini walaupun sangat diluar dugaan, tapi entah kenapa sangat berkesan banget. Adegan dimana mereka berdua duduk di favorite spot nya Tom sambil berdiskusi tentang keyakinan Tom akan cinta sejati serta ketidak percayaan Summer terhadap itu. Hal tersebut akan sangat berdampak bagi kehidupan mereka berdua. Sebuah ending yang bagus dan salah satu aspek mengapa film ini gw sebut honest and very real.

(500) Days Of Summer dapat gw katakan sebagai salah satu film terbaik tahun ini dan salah satu film rom-com terbaik sepanjang masa. Memang tidak terlalu perfect disana-sini, tapi dengan cerita (serta ending) yang tidak biasa serta dibalut dengan akting yang baik serta musik yang menyegarkan, membuat film ini tidak mudah dilupakan. A very very great movie. A total recommend.

Cerita:9/10 - Akting:7,8/10 - Ending:8/10 - Overall:8.8/10

Fox Searchlight Pictures
Cast: Joseph Gordon-Levitt, Zooey Deschanel, Geoffrey Arend, Chloe Moretz, Matthew Gray Gubler, Clark Gregg
Written by: Scott Neustadter, Michael H. Weber
Directed by: Marc Webb

Jumat, 06 November 2009

"I just want to live my life and play my music, what's so wrong about that?"

The Visitor (2008)
Walter Vale (Richard Jenkins) adalah seorang professor yang tinggal di Connecticut. Dikarenakan oleh sebuah conference di New York yang harus ia datangi, ia terpaksa kembali ke apartemen lamanya. Betapa kagetnya ia ketika ternyata di apartemennya, ia menemukan pasangan yang tinggal di apartemennya; Tarek (Haaz Sleiman), seorang pemain djembe *gendang Afrika* asal Syria dan kekasihnya Zainab (Danai Jekesai Gurirai) asal Senegal. Pasangan tersebut menyewa apartemen tersebut oleh seorang kenalan yang mengaku pemilik tempat itu. Karena pasangan tersebut tidak memiliki tempat tinggal lain, Walter mengizinkan mereka untuk tinggal di apartemennya.
Keseharian Tarek bermain djembe membuat Walter penasaran untuk memainkannya. Tarek dengan senang hati mengajari Walter bermain djembe, bahkan mengajaknya untuk ikut dalam pentas djembe di jalanan. Dalam perjalanan pulangnya, karena kesalahpahaman, Tarek ditangkap di subway karena di duga teroris dan dijebloskan ke detention center. Ibu Tarek, Mouna (Hiam Abbass) pun akhirnya datang dari Michigan, cemas karena tiada kabar dari Tarek. Mengetahui anaknya di penjara dan terancam di deportasi, ia tidak mau beranjak dari New York. Walter pun berusaha untuk mengeluarkan Tarek dari penjara, karena akhirnya setelah ditinggal mati istrinya, untuk pertama kalinya Walter merasakan kehangatan teman dan keluarga.


Ketika Richard Jenkin meraih nominasi Best Actor di Academy Awards tahun 2009 lalu, agak sedikit kaget juga, karena seinget gw sih walaupun memang aktingnya dipuji, tapi Jenkins sepertinya luput dari predikis2 Oscar saat itu. Bukan luput juga sih, cuman kurang dijagokan. Sempet penasaran juga filmnya, yang dari premisnya kayaknya cukup bagus. Tapi baru sempet nonton filmnya sekarang (karena baru keluar juga DVD bagus nya hahaha).
What a sweet little movie. Sebuah film yang cukup sederhana dan tidak terlalu muluk2, tetapi entah kenapa film ini sangat bersahaja. Menonton film ini seperti rollercoaster. Di awal film, kehidupan Walter yang flat dan lonely diiringi dengan sentilan2 dialog dan adegan yang membuat gw tersenyum. Ketika pertemuannya dengan Tarek & Zainab serta munculnya bond-of-brotherhood antara Walter dan Tarek, gw merasakan gairah hidup Tarek pun muncul kembali. Lalu saat Tarek dipenjara, kedatangan Mouna, terjalinnya hubungan antara Mounda dan Zainab sampai Mouna dan Walter sangat terasa pula akhirnya Walter kembali merasakan arti keluarga di dalam hidupnya.
Gw suka banget sama akting Richard Jenkins disini, memang ternyata pantas ia diganjar nominasi Best Actor. Apalagi ketika adegan di dekat ending, ketika ia menumpahkan 'pesan'nya di detention center, sebuah adegan yang heartbreaking. Akting2 pemeran lainnya pun bisa dibilang juga bisa mengimbangi Jenkins. Dan gw juga suka sama alunan musik djembe di film ini. Emang gw suka banget sama musik2 percussion yang penuh energi kayak gitu, asik banget. Jadi inget Lamuru nya Labsky hahaha.

Sebuah film yang gw kira bakal berat dan boring-material turned out to be a sweet and heartwarming movie. A great story, superb acting and nice execution. Plus a great music experience too. I personally love percussions. Sebuah film yang sangat tepat untuk memulai kembali untuk mereview setelah kejenuhan gw dalam belajar dan kawan-kawannya hahaha. A recommendation to all of you.

Cerita:8/10 Akting:8/10 Ending:7/10 Overall:8/10

Overture Films
Casts: Richard Jenkins, Haaz Sleiman, Danai Jekesai Gurira, Hiam Abbass, Richard Kind, Michael Cumpsty
Written and directed by: Thomas McCarthy

Minggu, 01 November 2009

The Greatest Albums I've Ever Heard

Untuk ngisi kekosongan, pengen berbagi info aja nih. Sebenernya udah lama banget nih pengen bikin ginian, cuman ga sempet terus. Yah sekarang mumpung lagi jarang nonton, mending bikin ini aja ya. Pertama-tama cuman pengen bilang, album-album yang akan gw sebutkan dibawah adalah album-album dengan lagu2 terbaik yang pernah gw denger. Inget, bukan the greatest ever, tapi greatest I've ever heard, jadi ga usah protes kalo ga setuju, namanya jg selera orang.
Album-album yang gw cantumkan dibawah gw pilih bukan berdasarkan artisnya. Tapi lebih ke keseluruhan lagu-lagu didalamnya. Whether its the m
usicality or even the lyrics. Gw paling suka dengan lagu2 yang musiknya asik dan liriknya inspiring. Bisa dibilang selama ini, gw cuman suka beberapa lagu dalam satu album, gak semua. Nah hanya ada beberapa album yang SAMPAI SAAT INI bisa membuat gw 'tahan' dengerin satu album. So here are they, the greatest albums I've ever heard....

6. Kisah Klasik Untuk Masa Depan - Sheila On 7 (2000)
Used to be one of the no.1 bands in Indonesia. Dengan musik yang sangat easy listening, berjiwa muda serta penuh semangat dan juga ditambah lagi dengan lirik-lirik, yang walaupun cheesy, tapi sangat memorable. Sebelum jamannya Ungu, Samsons, ST12, Wali mengisi soundtrack2 sinetron Indonesia, Sheila On 7 sudah pernah berada di posisi tersebut. Lagu-lagu dalam album ini terasa begitu sempurna, walaupun masih bermain di sektor cinta-cintaan. Dulu mungkin dengan gaya mereka yang, no doubt, sangat cool, membuat gw mengidolakan mereka. Ditambah lagi gosip horror dibalik pembuatan lagu 'Sephia'. Sheila On 7 bagaikan role model bagi remaja-remaja saat itu *sok tua banget gw*. Tapi sayang, album-album penerusnya tidak mampu melebihi maupun menyamai kualitas album terbaik mereka sampai sekarang ini. Memang sebuah kisah klasik.
Most Favorite Track(s): Sahabat Sejati, Bila Kau Tak Disampingku


5. Stripped - Christina Aguilera (2002)
Well, this is random. Kritikus memberikan nilai yang tidak terlalu baik untuk album ini, menjadikan album ini adalah album Christina Aguilera dengan nilai terendah di situs metacritic.com. But who cares? Christina Aguilera has been one of the best and most desirable female singers nowadays for me. Gw masih inget ketika video 'Dirrrty' di banned di MTV (lagi bulan puasa tuh) walaupun ia menjadi Artist Of The Month saat itu. Cover albumnya pun terpaksa di beri 'sampul tambahan' ketika dijual di Indonesia. Dengan rasa penasaran pun gw beli albumnya and I was so amazed. The album was so energetic, emotional and real. Beberapa lagu memang tipikal lagu 'joged2an' biasa. Tapi selain itu, terdapat lagu2 penuh pesan yang dalam, khususnya untuk women's right. Dengan dipenuhi lirik2 yang sangat catchy, musik yang easy listening dan sangat addictive, membuat gw menyatakan bahwa ini adalah album terbaik Christina.
Most Favorite Track(s): Soar, Fighter, Can't Hold Us Down, Beautiful


4. These Streets - Paolo Nutini (2006)
Refreshing! Sebelumnya gw tidak akan pernah menduga dibalik muka boyish penyanyi asal Scotland yang saat itu masih pendatang baru itu memiliki suara yang berat. Dengan musik yang sangat berbeda dengan musik-musik lainnya, membuat album ini terasa begitu menyegarkan. Aksen british nya mungkin sedikit membantunya dalam memainkan gitar serta menyanyikan lagu-lagunya. Dengan lirik yang cerdas pula membuat Paolo Nutini pendatang baru yang sangat menjanjikan. Sayang promosi nya tidak begitu besar di luar Eropa. Di US pun single 'New Shoes' nya hanya 'numpang lewat'. Walaupun begitu, lagu-lagu dalam album ini sangat lah memorable. Peaceful. Simple but spectacular.
Most Favorite Track(s): These Streets, Jenny Don't Be Hasty, Rewind, Last Request


3. A Rush Of Blood To The Head - Coldplay (2002)
Forget Viva La Vida, X&Y or even Parachute for a while. This is the album that got me attracted to Coldplay. Masih inget gw bagaimana The Scientist demen banget nempel di kepala gw saat itu. Coldplay, hands down, adalah salah satu band terbesar di dunia saat ini. Album-album yang mereka keluarkan mayoritas meraih banyak kesuksesan dimana-mana baik bagi para fans maupun kritikus. Dengan lirik2 khas Coldplay yang dalam, bermakna serta tidak biasa, dan dengan musik yang originally wicked. Tapi album ini adalah alasan mengapa gw jatuh cinta dengan Coldplay. The artwork itself was so amazing. Lagu-lagu di album ini sangat lah indah. Musiknya pun gak kalah bagusnya. All hail Coldplay!
Most Favorite Track(s): Clocks, The Scientist, In My Place


2. The Black Parade - My Chemical Romance (2006)
Dengan kesuksesan luar biasa dari single 'Helena' di album pertamanya Three Cheers for Sweet Revenge, membuat banyak orang akan menduga My Chemical Romance tidak akan kembali mengambil hati publik. Semua itu terbukti salah ketika MCR merilis album keduanya, The Black Parade. Dengan album ini MCR seakan membuktikan bahwa mereka disini untuk menguasai industri musik. Bisa dibilang band ini turut mempopulerkan demam 'emo' di dunia, walaupun sebenernya lagu-lagu mereka bukan termasuk lagu2 emo. Dibandingkan album debutnya, album kedua mereka ini sangatlah terkonsep rapi serta lebih baik secara kualitas. Baik dari segi musik yang diwarnai dengan eksperimen2 berani dan berbeda, serta lirik-lirik yang provokatif dan penuh energi walaupun agak kelam karena album ini memang lebih banyak berbicara mengenai 'kematian'. Oiya, dari semua artis2 yang gw cantumkan albumnya disini, cuman MCR yang baru gw tonton live ketika mereka konser di Jakarta setahun yang lalu. One word: Awesome!
Most Favorite Track(s): Cancer, Teenagers, I Don't Love You, Welcome To The Black Parade, Disenchanted


1. Continuum & Heavier Things - John Mayer (A TIEE!!)
Predictable, so predictable. My number one and the most inspiring musician ever (despite the fact about his so-called stupid mouth). John Mayer memang sangat berbeda dengan penyanyi dan penulis lagu yang ada saat ini. Sebagai salah satu musisi terbaik sepanjang sejarah, Mayer bisa dibilang sangat brilian dalam membuat lagu, baik mengaransirnya maupun menulis. Lagu-lagu yang ia ciptakan, dari segi musik gak pasaran tapi tetap easy listening dan catchy. Lirik? The best lyric writer ever. Mau lagu cinta kek, mau lagu apa kek, dia rajanya. Mayer menulis lagu yang bagus udah kayak nafas, lancar banget. Liriknya kayaknya gak asal bikin dan ga asal jadi aja, bener2 dipikir mateng2 dan sangat2 puitis. Akhir-akhir ini Mayer lebih sering menulis lagu2 dengan tema kedamaian maupun kehidupan. Karena itulah lirik2 yang ditulisnya sangat dalem. Sebenernya ingin hanya memilih salah satu dari kedua album terbaiknya ini (kudos jg buat Room For Squares, his debut album and as great as the next twos), tapi gw gak mungkin memilih *caelaaah* hahaha 2 album ini memiliki lagu-lagu yang sangat superb. Semua, sekali lagi, SEMUA lagu dalam 2 album ini memiliki magis masing-masing yang sulit dicari tandingannya di penyanyi lain. Masih menunggu untuk album keempatnya, Battle Studies yang rencananya akan dirilis 17 November nanti, CANT WAIT!
Most favorite track(s) from Continuum: Stop This Train, In Repair, The Heart Of Life, Bold As Love (practically I LOVE every one of them)
Most favorite track(s) from Heavier Things: Come Back To Bed (my most favorite Mayer song of all time), Daughters, Clarity, Bigger Than My Body, and yes EACH OF TIME WAS FANTASTIC!