Selasa, 26 April 2011

The Best Day Ever Lyrics-Spongebob

Kali ini Roxa sedang terkena penyakit Spongebobholic! Hehehe. Ini dia, lagu favorit Roxa di film Spongebob; THE BEST DAY EVER!

Mr. Sun came out and he smiled at me. Said it's gonna be a good one just wait and see!
Jumped out of bed and I ran outside feeling so extra exstatified!

It's the Best day ever! (Best day ever)
It's the Best day ever! (Best day ever)

I'm so busy got nothing to do, spent the last two hours just tying my shoe. 
Every flower every grain of sand, is reaching out to shake my hand.

It's the Best day ever! (Best day ever)
It's the Best day ever! (Best day ever)

Sometimes the little things start closing in on me, when I'm feeling down I wanna lose that frown I stick my head out the window and look around.
Those clouds don't scare me they can't disguise, this magic that's happening right before my eyes.
Soon Mr. Moon will be shining bright so the best day ever will last all night.
Yes the Best day ever's gonna last all night now.

It's the Best day ever! (Best day ever)
It's the Best day ever (Best day ever)
It's the Best day ever! (Best day ever)
It's the Best day ever (Best day ever)
(Best day ever)
(Best day...) 

Senin, 25 April 2011

Spongebob Quotes

Wah,, udah lama Roxa gak nge-post. Hehehe, maklum, lagi sakit, jadi males ngapa-ngapain. Ya udah deh, kali ini Roxa bakal menyuguhkan bermacam-macam quotes yang keran abis dari film animasi terkenal yang tak lain dan tak bukan adalah... SPONGEBOB SQUAREPANTS!! Ternyata, di balik aksi lucu si spons kuning, ada banyak makna tak tersirat! Seperti apakah itu?












Minggu, 24 April 2011

Head-to-head: Stand by Me (1986) & Now and Then (1995)

Sebenernya apa sih yang dimaksud dengan film coming-of-age? As a matter of fact, gw juga tidak bisa dengan baik menjelaskannya. Apa yang gw tangkep dari beberapa definisi dan contoh, film coming-of age adalah film yang memiliki tema pendewasaan, maksudnya transisi dari anak kecil menjadi dewasa. Masa-masa remaja gitu lah, kalo boleh disebut seperti itu, CMIIW sih. Apapun arti konkritnya, film-film yang sering disebut sebagai film coming-of-age biasanya penuh dengan pesan-pesan di dalamnya. Film seperti ini kadang membuat gw tertarik karena ceritanya dan juga tema yang deket sama gw, yang notabene masih muda #bohong. Dua film pilihan gw adalah Stand by Me dan satu lagi yang banyak orang bilang 'versi ceweknya', Now and Then.

Stand by Me (1986)
Plot: Empat orang sahabat, Gordon 'Gordie' LaChance (Will Wheaton), Chris Chambers (River Phoenix), Teddy Duchamp (Corey Feldman) dan Vern Tessio (Jerry O'Connell) berencana menghabiskan akhir pekan mereka berkelana di tempat yang diduga sebagai tempat ditemukannya mayat seorang anak yang hilang tanpa jejak. Informasi ini didapat oleh kakak Vern yang tanpa sengaja menemukan mayatnya tetapi tidak ingin melaporkannya pada polisi karena sebelumnya ia terlibat dalam pencurian mobil. Keempat anak tersebut yang pada awalnya memiliki maksud untuk menjadi terkenal akhirnya melakukan perjalanan panjang penuh tantangan yang tidak terlupakan.

Review: Gw bingung harus mulai dari mana, hmmm mungkin dari sini; gw sukaaa sama film ini. Kalo kata orang-orang film ini adalah salah satu film coming-of-age terbaik, gw gak bisa menyangkal, memang begitu adanya. Jujur, gw tidak pernah merasakan apa yang dirasakan mereka, maksudnya hit-the-road, dengan sahabat-sahabat terdekat, tapi entah mengapa, lewat film ini, gw sangat tersentuh. Entah karena karakterisasinya yang menurut gw sangat real, atau naskah yang mengalir lancar plus beberapa sejumlah memorable lines. Tahukah kalo ternyata film ini diangkat dari cerita karya Stephen King? Master horror ini juga sempat mengagetkan gw dengan kisah yang gak berhubungan dengan supernatural dan horror seperti The Shawshank Redemption. Film ini memiliki kisah yang sangat inspiratif dan penampilan yang sangat baik dari aktor-aktornya.

Personally, gw sangat amat terkesan dengan karakter Chris Chambers dan pemerannya, the late River Phoenix. Chris ini di awal bener-bener digambarkan (dengan narasi dan performance Phoenix) sebagai bad boy. Pembawaannya yang terkesan santai, terlihat acuh, serta tak lupa rokok di mulutnya membuat Chris Chambers sepertinya akan menjadi tokoh antagonis, or at least pengacau grup tersebut. Tetapi seiring berjalannya film, kita mulai mengenal Chris yang, surprisingly, very very wise. Dia lah yang paling memiliki common sense diantara teman-temannya. Dia menghentikan aksi gila Teddy, melerai perseturuan, cinta damai, serta meng-encourage Gordon, sahabat baiknya. Dari situ kita tahu bahwa Chris orang yang sangat loyal. Di balik itu semua, ia ternyata memiliki sisi rapuh dalam dirinya yang merasa dirinya di-judge akan stereotype anak yang berasal dari keluarga kriminal. Sesuatu yang sepertinya gw lakukan di awal film. Suatu revelation ini lah yang membuat gw sangat suka dengan karakterisasi film ini. Permainan apik dari River Phoenix turut memberikan emosi yang dalam untuk tokoh Chris. Sayang, sama seperti Heath Ledger, Phoenix meninggal dunia dalam usia yang sangat muda. What a loss from a very talented and promising actor.

Selain kisah Chris, ada lagi tentang Teddy yang esentrik dengan rasa cinta dan bangga terhadap ayahnya yg veteran perang, Gordon yang selalu di anak-dua-kan oleh ayahnya yang lebih mencintai kakaknya yang telah meninggal, serta Vern yang sedikit gemuk dan selalu selalu menjadi bulan-bulanan. Sedikit kaget juga yang memerankan Vern adalah Jerry O'Connell. Jangan lewatkan juga penampilan singkat dari John Cusack dan Kiefer Sutherland di film ini. In short, Stand by Me entah mengapa menjadi sebuah film yang sangat personal bagi gw. Film bromance/coming-of-age/road dengan cerita yang sangat dalem. Gordie, Chris, Teddy dan Vern adalah karakter-karakter unik dan berbeda-beda tapi dengan performa semua castnya membuat kita turut merasakan kekompakkan mereka, walaupun diselingi berantem-berantem a la ababil. Kata penutup yang ditulis oleh Gordon dewasa (Richard Dreyfuss) di komputernya sebagai epilog film ini menjadi sebuah ringkasan smart betapa berartinya pengalaman mereka tersebut baginya.

(****1/2)
Stand By Me (1986) | Adventure, Drama | Cast: Wil Wheaton, River Phoenix, Corey Feldman, Jerry O'Connell, Kiefer Sutherland, John Cusack | Written by: Stephen King (novel), Raynold Gideon & Bruce A. Evans (screenplay) | Directed by: Rob Reiner
------------------------------------------------------------------------------------------------

Now and Then (1995)
Plot: Christina 'Chrissy' DeWitt (Rita Wilson) yang tengah mengandung mengundan teman-teman semasa kecilnya, Samantha 'Sam' Albertson (Demi Moore), Roberta Martin (Rosie O'Donnell) dan Tina 'Teeny' Tercell (Melanie Griffith) untuk bertemu kembali. Di reuni tersebut, mereka kembali mengingat pengalaman musim panas mereka ketika mereka masih kecil. Sam, Roberta, Chrissy, Teeny (Gaby Hoffman, Christina Ricci, Ashleigh Aston Moore dan Thora Birch) muda menghabiskan waktu musim panas mereka menyelidiki misteri matinya seorang anak kecil di kota mereka yang terjadi puluhan tahun lalu.

Review: Banyak yang mengasumsikan bahwa Now and Then ini versi cewek dari Stand By Me. Kalo melihat premis dan kemudian menonton filmnya, memang banyak kesamaan dari segi tema dan cerita. First, kita punya sekelompok (tepatnya, 4 orang) sahabat yang melakukan suatu kegiatan yang sepertinya out of their daily activities, later on, mengubah cara pandang satu atau lebih dari mereka. Lalu dua-duanya juga berhubungan dengan kematian. Bedanya adalah Now and Then memang ditargetkan lebih ke kaum hawa. Selain memang mayoritas pemainnya adalah cewek, cerita dalam film ini juga lebih melodramatis dan lebih soft dibandingkan Stand By Me. Isu-isu yang diangkat juga masih bisa dianggap malu-malu kalo mau dibandingkan juga. Misalnya seperti perceraian orang tua atau masalah abandonment yang tidak memberikan dampak psikologis yang signifikan. Tidak se-ekstrim SbM yang menyinggung orang tua yang mentally unstable dan destructive atau yang me-reject anaknya secara terang-terangan.

Kalo dari segi akting, gw lumayan kepincut (bahasa apa itu?!) sama artis-artis muda disini #perv. Seger juga mata ngeliat Christina Ricci dan Thora Birch muda disini, cantik-cantik banget. Melihat penampilan saat tokoh-tokohnya pas masih muda, overall gw gak kecewa. Semua bermain pas dengan porsinya, gak dibuat-buat. Agak sedikit disayangkan scene ketika mereka udah dewasa gak begitu banyak, padahal gw lumayan terkesan sama penampilan Demi Moore disini. Dan kayaknya cocok banget pemilihan aktris-aktris yang meranin karakter dalam film ini pas udah dewasa, muka pada mirip, karakter juga masih 11-12. Ada beberapa scene yang terasa bertele-tele dan kepanjangan. Gw merasa scene dengan seorang veteran perang Vietnam yang dimainkan Brendan Fraser kurang sreg. Memang gw mengerti maksudnya krusial untuk tokoh Samantha, tapi peletakkannya terasa janggal.

Tetapi, dari perbandingan dengan SbM dan segala kekurangan yang dimilikinya, Now and Then masihlah menjadi sebuah sajian yang lumayan menghibur. Selain Fraser, ada penampilan sekilas dari Bonnie Hunt dan Hank Azaria. Memang agak terlalu ringan di awal, kendor di tengah-tengah, tetapi menjelang akhir, NaT akhirnya mengeluarkan 'taring'nya juga. Dan effortnya cukup efektif untuk memberikan pesan berharga, menyentuh dan emosional. Lagipula memang Now and Then bertujuan untuk memberikan tontonan ringan. Dan dengan itu, film ini mengerjakan tugasnya dengan baik.

(***1/2)
Now And Then (1995) | Comedy, Drama, Romance | Rated PG-13 for adolescent sex discussions | Christina Ricci , Rosie O'Donnell, Thora Birch, Melanie Griffith, Gaby Hoffmann, Demi Moore, Ashleigh Aston Moore, Rita Wilson, Devon Sawa | Written by: I. Marlene King | Directed by: Lesli Linka Glatter
------------------------------------------------------------------------------------------------
Overview: Bukannya karena gender, tapi kalo mau memilih antara Team Boys vs. Team Girls, sudah jelas saya memilih Stand By Me. Stand By Me memiliki jalan cerita dan dialog yang lebih mengalir, memorable dan ngena serta jauh lebih rasional. SBM memiliki taraf kualitas akting yang setingkat lebih tinggi juga daripada NaT. Tetapi kalo melihat tujuan awal kedua film, sepertinya keduanya berhasil mencapai misi tersebut. Dua film coming-of-age yang dengan caranya masing-masing sukses menunjukkan kualitasnya yang menginspirasi. Ada satu quote dari Mark Twain yang menurut gw agak berhubungan dengan 2 film diatas, begini bunyinya; "Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do". Kedua grup dalam dua film ini melakukan aktifitas yang melelahkan, menguras emosi dan tenaga. Tetapi di akhir, mereka semua belajar dari pengalaman yang tak terlupakan itu. Ya kan? Both movies are recommended!

Jumat, 22 April 2011

Review: 12 Angry Men (1957)

Plot: Dua belas orang asing dipertemukan dan dipekerjakan dalam satu kesempatan; menjadi juri sebuah sidang pembunuhan seorang ayah dengan tersangka anak laki-lakinya sendiri. Ketika hampir seluruh fakta menunjukkan bahwa anak tersebut bersalah, salah seorang juri (Henry Fonda) masih merasa ada yang janggal dalam kasus tersebut. Ketentuan hukum untuk mendakwa seseorang bersalah atau tidak adalah adanya keputusan unanimous (bulat) dari seluruh juri, yang berarti jumlah voting harus 12 lawan 0. Ketika hanya seorang yang menyatakan bahwa anak tersebut tidak bersalah (at least belum yakin dan ada reasonable doubt dalam dirinya), jelas membuat juri-juri lainnya marah karena mereka merasa kasus dan pelakunya sudah jelas. Tetapi setelah mereka berargumen, mulailah satu-persatu sadar bahwa kasus ini tidak se-transparan yang mereka kira.

Review: Awal April lalu, dunia film kembali berduka setelah sutradara legendaris, Sidney Lumet tutup usia di umurnya yang ke-86. Lumet telah menyutradarai banyak film, terakhir di tahun 2007, Before The Devil Knows You're Dead. Dengan track-record film2nya yang menerima sejumlah nominasi Oscar, sayangnya Lumet tidak pernah memenangkan Oscar untuk Best Director. Tetapi, Academy Awards memutuskan untuk memberikannya Academy Honorary Award (semacam Lifetime Achievement) untuknya di tahun 2005. Mengutip dari wikipedia; "in recognition of his brilliant services to screenwriters, performers and the art of the motion picture". Sebagai moviegoer kacangan seperti gw ini, 12 Angry Men adalah film Lumet pertama yang gw tonton dan uniknya juga, inilah debut penyutradaraan Lumet dalam membuat film layar lebar. Sebenernya pengen menonton dan mereview Network duluan, tapi entah kenapa gak sempet-sempet, malah sempet nonton ini dulu #curcol.

Oke, kembali ke filmnya. 12 Angry Men mungkin menjadi salah satu film paling mengasyikan yang pernah gw tonton. No kidding, 12 Angry Men di-craft sedemikian rupa hingga menjadi sebuah tontonan yang intense. Bagaimana bisa sebuah film drama dengan minim jumlah set (malah hampir seluruh film hanya menggunakan satu tempat; ruang juri), hanya berisi dialog-dialog ping-pong antar karakter bisa begitu menarik? Mungkin salah satu jawabannya adalah naskah superb tulisan Reginald Rose yang diadaptasi oleh drama teater yang juga rekaannya sendiri. Keberagaman karakter dalam film ini digambarkan dengan sempurna dan somewhat, exciting. Karakter-karakter tersebut memiliki background, attitude, dan sifatnya masing-masing. Semua diberikan porsi yang pas, tidak ada yang bener-bener disorot banget (kecuali mungkin karakter Henry Fonda yang agak sedikit diberi perhatian lebih) dan gak ada yang terasa left out. Mungkin itu juga karena selain 2 karakter juri, tidak ada juri yang diberi nama. Detail-detail kasus yang satu persatu terungkap dituturkan secara menarik menjadikan semakin seru untuk diikuti dari awal hingga mencapai ending.

Dalam film ini, kita bisa melihat perubahan suasana dan karakter seiring terkuaknya beberapa-beberapa 'fakta' yang sebelumnya terlewatkan. Atmosfirnya yang makin intens, selain karena perdebatan yang kian memuncak juga karena udaranya (literally) yang makin panas, membuat para karakter juri-juri adu mulut membabi-buta dan makin keras kepala dengan pendapat dan point of view masing-masing. Pantas saja ada kata 'angry men' dalam judulnya. Siapa yang tidak tahan menghadapi ruangan tertutup, panas, membicarakan hal yang (menurut mereka) tidak penting untuk dibahas? Seiring berjalannya waktu pun, karakteristik asli para juri pun mulai terbuka. Apakah itu seorang sadist, bigot, labil, atau tidak terlalu peduli dengan tanggung jawabnya sebagai juri. Kasus yang semula sangat jelas lama-lama makin buram, ketika fakta-fakta dan pertanyaan-pertanyaan mengganggu dilontarkan oleh satu persatu juri. Dari yang awalnya hanya satu orang saja yang memiliki 'reasonable doubt', lama kelamaan, juri-juri tersebut mulai sadar bahwa fakta-fakta yang ada belum 100% akurat. Karakter juri yang diperankan Henry Fonda ini, yang mungkin saja telah menyelamatkan hidup seseorang, pernah dinominasikan sebagai karakter hero paling memorable dalam dunia perfilman Hollywood.

Menurut gw film ini juga sangat inspiratif, khususnya bagi orang-orang yang bekerja dalam bidang hukum. Dalam film ini, pilihannya ada 2, anak laki-laki itu dinyatakan tidak bersalah dan bebas, atau bersalah dan dihukum dengan charge first-degree murder. Mendakwa seseorang untuk kemudian dihukum mati adalah sebuah keputusan yang sulit, yes? I mean, itu kan sama saja memegang kuasa atas nyawa seseorang. Dalam sebuah kasus, seharusnya semua fakta nya di-cek secara menyeluruh dan bener-bener akurat. Dalam film ini, memang di permukaan terlihat jelas bahwa si anak tersebut pelakunya, tapi apakah benar begitu? Hikmah dari film ini adalah buat kita untuk tidak terlalu cepat dalam mengambil keputusan. Seorang juri ngomong dalam film ini kalo gak mungkin seseorang bisa se-positif itu. Masih ada kemungkinan-kemungkinan yang lain kalo kita gak aware. Adanya aturan unanimous vote dan istilah reasonable doubt memang menjadi sebuah privilege dalam hukum US sana (di Indo juga begitu kah?), menjadi harapan untuk orang-orang yang di-wrongfully accused, tetapi di satu sisi malah bisa saja membebaskan orang yang bersalah karena kekurangan bukti yang mungkin saja disabotase oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab.

Overview: 12 Angry Men adalah salah satu contoh masterpiece. Debut penyutradaraan Sidney Lumet ini menghadirkan sebuah sajian yang luar biasa seru dan menegangkan. Lumet yang sering gw denger dikenal sebaga 'actors director' bener-bener mengeluarkan kualitas akting para karakter-karakternya yang menjadi salah satu alasan gw betah nonton film ini dari awal, selain tentu saja naskahnya yang intriguing dan menyimpan banyak twist. Selain sebagai wake-up call yang cukup inspiratif, film ini juga dengan sukses memaksimalkan minimnya set dan hanya bertumpu dengan akting, naskah serta penyutradaraan yang sangat sangat flawless. A top-notch classic.

(*****)
12 Angry Men (1957) | Drama, Mystery | Rated: PG for Violent Themes, Brief Mild Language and Some Smoking | Cast: Henry Fonda, Martin Balsam, John Fiedler, Lee J. Cobb, E.G. Marshall, Jack Klugman, Edward Binns, Jack Warden, Joseph Sweeney, Ed Begley, George Voskovec, Robert Webber | Written by: Reginald Rose | Directed by: Sidney Lumet

Rabu, 20 April 2011

The Girls of Coachella 2011

The Coachella Valley Music and Arts Festival kicks off this weekend in the hot desert of California, with an expected temperature of around 90 degrees. There are a bajillion people in the middle of the desert watching six stages with a thousand bands and all sorts of other distractions too. There are a lot of scantily clad white girls, including Paris Hilton, shaking their money makers for all the world to see at this outside concert.