Stand by Me (1986)
Plot: Empat orang sahabat,
Gordon 'Gordie' LaChance (
Will Wheaton),
Chris Chambers (
River Phoenix),
Teddy Duchamp (
Corey Feldman) dan
Vern Tessio (
Jerry O'Connell) berencana menghabiskan akhir pekan mereka berkelana di tempat yang diduga sebagai tempat ditemukannya mayat seorang anak yang hilang tanpa jejak. Informasi ini didapat oleh kakak Vern yang tanpa sengaja menemukan mayatnya tetapi tidak ingin melaporkannya pada polisi karena sebelumnya ia terlibat dalam pencurian mobil. Keempat anak tersebut yang pada awalnya memiliki maksud untuk menjadi terkenal akhirnya melakukan perjalanan panjang penuh tantangan yang tidak terlupakan.
Review: Gw bingung harus mulai dari mana, hmmm mungkin dari sini; gw sukaaa sama film ini. Kalo kata orang-orang film ini adalah salah satu film coming-of-age terbaik, gw gak bisa menyangkal, memang begitu adanya. Jujur, gw tidak pernah merasakan apa yang dirasakan mereka, maksudnya
hit-the-road, dengan sahabat-sahabat terdekat, tapi entah mengapa, lewat film ini, gw sangat tersentuh. Entah karena karakterisasinya yang menurut gw sangat
real, atau naskah yang mengalir lancar plus beberapa sejumlah
memorable lines. Tahukah kalo ternyata film ini diangkat dari cerita karya
Stephen King? Master horror ini juga sempat mengagetkan gw dengan kisah yang gak berhubungan dengan supernatural dan horror seperti
The Shawshank Redemption. Film ini memiliki kisah yang sangat inspiratif dan penampilan yang sangat baik dari aktor-aktornya.
Personally, gw sangat amat terkesan dengan karakter Chris Chambers dan pemerannya, the late
River Phoenix. Chris ini di awal bener-bener digambarkan (dengan narasi dan
performance Phoenix) sebagai
bad boy. Pembawaannya yang terkesan santai, terlihat acuh, serta tak lupa rokok di mulutnya membuat Chris Chambers sepertinya akan menjadi tokoh antagonis,
or at least pengacau grup tersebut. Tetapi seiring berjalannya film, kita mulai mengenal Chris yang,
surprisingly, very very wise. Dia lah yang paling memiliki
common sense diantara teman-temannya. Dia menghentikan aksi gila Teddy, melerai perseturuan, cinta damai, serta meng-
encourage Gordon, sahabat baiknya. Dari situ kita tahu bahwa Chris orang yang sangat loyal. Di balik itu semua, ia ternyata memiliki sisi rapuh dalam dirinya yang merasa dirinya di-
judge akan
stereotype anak yang berasal dari keluarga kriminal. Sesuatu yang sepertinya gw lakukan di awal film. Suatu
revelation ini lah yang membuat gw sangat suka dengan karakterisasi film ini. Permainan apik dari River Phoenix turut memberikan emosi yang dalam untuk tokoh Chris. Sayang, sama seperti
Heath Ledger, Phoenix meninggal dunia dalam usia yang sangat muda.
What a loss from a very talented and promising actor.Selain kisah Chris, ada lagi tentang Teddy yang esentrik dengan rasa cinta dan bangga terhadap ayahnya yg veteran perang, Gordon yang selalu di anak-dua-kan oleh ayahnya yang lebih mencintai kakaknya yang telah meninggal, serta Vern yang sedikit gemuk dan selalu selalu menjadi bulan-bulanan. Sedikit kaget juga yang memerankan Vern adalah Jerry O'Connell. Jangan lewatkan juga penampilan singkat dari
John Cusack dan
Kiefer Sutherland di film ini.
In short, Stand by Me entah mengapa menjadi sebuah film yang sangat personal bagi gw. Film
bromance/coming-of-age/road dengan cerita yang sangat dalem. Gordie, Chris, Teddy dan Vern adalah karakter-karakter unik dan berbeda-beda tapi dengan performa semua castnya membuat kita turut merasakan kekompakkan mereka, walaupun diselingi berantem-berantem a la ababil. Kata penutup yang ditulis oleh Gordon dewasa (
Richard Dreyfuss) di komputernya sebagai epilog film ini menjadi sebuah ringkasan
smart betapa berartinya pengalaman mereka tersebut baginya.
(****1/2)
Stand By Me (1986) | Adventure, Drama | Cast: Wil Wheaton, River Phoenix, Corey Feldman, Jerry O'Connell, Kiefer Sutherland, John Cusack | Written by: Stephen King (novel), Raynold Gideon & Bruce A. Evans (screenplay) | Directed by: Rob Reiner
------------------------------------------------------------------------------------------------
Now and Then (1995)
Plot: Christina 'Chrissy' DeWitt (
Rita Wilson) yang tengah mengandung mengundan teman-teman semasa kecilnya,
Samantha 'Sam' Albertson (
Demi Moore),
Roberta Martin (
Rosie O'Donnell) dan
Tina 'Teeny' Tercell (
Melanie Griffith) untuk bertemu kembali. Di reuni tersebut, mereka kembali mengingat pengalaman musim panas mereka ketika mereka masih kecil. Sam, Roberta, Chrissy, Teeny (G
aby Hoffman, Christina Ricci, Ashleigh Aston Moore dan
Thora Birch) muda menghabiskan waktu musim panas mereka menyelidiki misteri matinya seorang anak kecil di kota mereka yang terjadi puluhan tahun lalu.
Review: Banyak yang mengasumsikan bahwa
Now and Then ini versi cewek dari
Stand By Me. Kalo melihat premis dan kemudian menonton filmnya, memang banyak kesamaan dari segi tema dan cerita.
First, kita punya sekelompok (tepatnya, 4 orang) sahabat yang melakukan suatu kegiatan yang sepertinya
out of their daily activities,
later on, mengubah cara pandang satu atau lebih dari mereka. Lalu dua-duanya juga berhubungan dengan kematian. Bedanya adalah Now and Then memang ditargetkan lebih ke kaum hawa. Selain memang mayoritas pemainnya adalah cewek, cerita dalam film ini juga lebih melodramatis dan lebih
soft dibandingkan Stand By Me. Isu-isu yang diangkat juga masih bisa dianggap malu-malu kalo mau dibandingkan juga. Misalnya seperti perceraian orang tua atau masalah
abandonment yang tidak memberikan dampak psikologis yang signifikan. Tidak se-ekstrim SbM yang menyinggung orang tua yang
mentally unstable dan
destructive atau yang me-
reject anaknya secara terang-terangan.
Kalo dari segi akting, gw lumayan kepincut (bahasa apa itu?!) sama artis-artis muda disini #perv. Seger juga mata ngeliat Christina Ricci dan Thora Birch muda disini, cantik-cantik banget. Melihat penampilan saat tokoh-tokohnya pas masih muda,
overall gw gak kecewa. Semua bermain pas dengan porsinya, gak dibuat-buat. Agak sedikit disayangkan
scene ketika mereka udah dewasa gak begitu banyak, padahal gw lumayan terkesan sama penampilan Demi Moore disini. Dan kayaknya cocok banget pemilihan aktris-aktris yang meranin karakter dalam film ini pas udah dewasa, muka pada mirip, karakter juga masih 11-12. Ada beberapa scene yang terasa bertele-tele dan kepanjangan. Gw merasa scene dengan seorang veteran perang Vietnam yang dimainkan
Brendan Fraser kurang sreg. Memang gw mengerti maksudnya krusial untuk tokoh Samantha, tapi peletakkannya terasa janggal.
Tetapi, dari perbandingan dengan SbM dan segala kekurangan yang dimilikinya, Now and Then masihlah menjadi sebuah sajian yang lumayan menghibur. Selain Fraser, ada penampilan sekilas dari
Bonnie Hunt dan
Hank Azaria. Memang agak terlalu ringan di awal, kendor di tengah-tengah, tetapi menjelang akhir, NaT akhirnya mengeluarkan 'taring'nya juga. Dan
effortnya cukup efektif untuk memberikan pesan berharga, menyentuh dan emosional. Lagipula memang Now and Then bertujuan untuk memberikan tontonan ringan. Dan dengan itu, film ini mengerjakan tugasnya dengan baik.
(***1/2)
Now And Then (1995) | Comedy, Drama, Romance | Rated PG-13 for adolescent sex discussions | Christina Ricci , Rosie O'Donnell, Thora Birch, Melanie Griffith, Gaby Hoffmann, Demi Moore, Ashleigh Aston Moore, Rita Wilson, Devon Sawa | Written by: I. Marlene King | Directed by: Lesli Linka Glatter
------------------------------------------------------------------------------------------------
Overview: Bukannya karena
gender, tapi kalo mau memilih antara
Team Boys vs. Team Girls, sudah jelas saya memilih Stand By Me. Stand By Me memiliki jalan cerita dan dialog yang lebih mengalir, memorable dan ngena serta jauh lebih rasional. SBM memiliki taraf kualitas akting yang setingkat lebih tinggi juga daripada NaT. Tetapi kalo melihat tujuan awal kedua film, sepertinya keduanya berhasil mencapai misi tersebut. Dua film
coming-of-age yang dengan caranya masing-masing sukses menunjukkan kualitasnya yang menginspirasi. Ada satu
quote dari
Mark Twain yang menurut gw agak berhubungan dengan 2 film diatas, begini bunyinya;
"Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do". Kedua grup dalam dua film ini melakukan aktifitas yang melelahkan, menguras emosi dan tenaga. Tetapi di akhir, mereka semua belajar dari pengalaman yang tak terlupakan itu. Ya kan?
Both movies are recommended!